DEDUKTIF
Paragraf deduktif adalah paragraf yang kalimat utamanya berada di awal paragraf, kemudian diikuti kalimat kalimat penjelas.
Contoh
paragraf deduktif :
Pemuda warga desa Tenteram memutuskan melaksanakan jam belajar masyarakat dengan tertib. Sebelumnya, banyak anak sekolah yang dibiarkan di luar rumah, dan hanya duduk duduk di pinggir jalan pada saat jam jam belajar. Para pemuda mulai mendatangi orang tua dan memberi pengertian pentingnya belajar bagi anak anak mereka. Apabila warga menemukan anak-anak mereka sedang kumpul - kumpul di pinggir jalan pada saat jam belajar, mereka akan diperingatkan dan diajak untuk belajar bersama. Jam belajar masyarakat dimulai pukul18.00 sampai pukul 20.00.
Pemuda warga desa Tenteram memutuskan melaksanakan jam belajar masyarakat dengan tertib. Sebelumnya, banyak anak sekolah yang dibiarkan di luar rumah, dan hanya duduk duduk di pinggir jalan pada saat jam jam belajar. Para pemuda mulai mendatangi orang tua dan memberi pengertian pentingnya belajar bagi anak anak mereka. Apabila warga menemukan anak-anak mereka sedang kumpul - kumpul di pinggir jalan pada saat jam belajar, mereka akan diperingatkan dan diajak untuk belajar bersama. Jam belajar masyarakat dimulai pukul18.00 sampai pukul 20.00.
Kalimat utama dalam paragraf di atas
adalah kalimat yang pertama yaitu , Pemuda warga desa tenteram memutuskan
melaksanakan jam belajar masyarakat dengan tertib.
Silogisme
Silogisme adalah suatu argumen yang bersifat deduktif yang mengandung tiga proporsi kategori yakni dua premis dan satu kesimpulan. Masing-masing premis itu yakni premis mayor (premis umum) biasanya disingkat PU dan premis minor (premis khusus) bisanya disingkat PK.
Silogisme adalah suatu argumen yang bersifat deduktif yang mengandung tiga proporsi kategori yakni dua premis dan satu kesimpulan. Masing-masing premis itu yakni premis mayor (premis umum) biasanya disingkat PU dan premis minor (premis khusus) bisanya disingkat PK.
Kriteria silogisme sebagai barikut :
Premis Umum (PU) : Menyatakan bahwa semua anggota golongan tertentu (semua A) memiliki sifat atau hal tertentu (=B)
Permis KhusuS (PK) : Menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang itu (=C) adalah golongan tertentu itu (=A)
Kesimpulan (K) : Menyatakan bahwa sesuatu atau sesorang itu (=C) memiliki sifat atau hal tersebut pada B (=B)
Silogisme ini bagian dari penalaran deduksi. Jika dirumuskan sebagai berikut :
PU : A = B
PK : C = A
K : C = B
A = semua anggota golongan tertentu
B = sifat yang ada pada A
C = sesorang atau sesuatu anggota A
Contoh :
Silogisme salah yaitu silogisme yang salah satu premisnya salah atau mungkin penalarannya salah, maka kesimpulannyapun tentu akan salah sehingga penarikan kesimpulannya sering tidak logis dan tidak dapat dipercaya kebenarannya.
Contoh
:
PU : Prasetyo pelajar teladan
PK : Prasetyo putra seorang guru
K : Putra seorang guru pasti pelajar teladan
PU : Prasetyo pelajar teladan
PK : Prasetyo putra seorang guru
K : Putra seorang guru pasti pelajar teladan
Entimem
Entimem adalah silogisme yang dipersingkat. Disaat tertentu orang ingin mengemukakan sesuatu hal secara praktis dan tepat sasaran.
Entimem adalah silogisme yang dipersingkat. Disaat tertentu orang ingin mengemukakan sesuatu hal secara praktis dan tepat sasaran.
Contoh :
Ø PU : Semua orang ingin sukses harus belajar dan berdoa
Ø PK : Lisa ingin sukses
Ø K : Lisa harus belajar dan berdoa
Rumus Silogisme Entinem : C = B karena C = A
Rantai
Deduksi
Penalaran
yang deduktif dapat berlangsung lebih informal dari entimem. Orang tidak berhenti pada
sebuah silogisme saja, tetapi dapat pula berupa merangkaikan beberapa bentuk
silogisme yang tertuang dalam bentuk yang informal.
Contoh :
a. Semua plecing kangkung pedas rasanya.
(hasil generalisasi)
Kali ini saya diberi lagi
plecing kangkung. Sebab itu, plecing kangkung ini juga pasti pedas rasanya.
(deduksi) Saya tidak suka akan makanan yang pedas rasanya. (induksi:
generlisasi) Ini adalah plecing kangkung pedas. Sebab itu, saya tidak suka
plecing kangkung ini. (deduksi) Saya tidak suka makan apa saja, yang tidak saya
senangi (induksi:generalisasi) Saya tidak suka makanan ini. Sebab itu saya
tidak memakannya. (deduksi)
b. Semua jamu pahit rasanya. (hasil
generalisasi) Kali ini saya diberi lagi jamu. Sebab itu, jamu ini juga pasti
pahit rasanya. (deduksi) Saya tidak suka akan minuman yang pahit rasanya.
(induksi: generlisasi) Ini adalah jamu pahit. Sebab itu, saya tidak suka jamu
ini. (deduksi) Saya tidak suka minum apa saja, yang tidak saya senangi
(induksi:generalisasi) Saya tidak suka minuman ini. Sebab itu saya tidak
meminumnya. (deduksi)
Sumber:
http://rezadnk.wordpress.com/tugas-softskill-bhs-indonesia-penalaran-deduktif-penalaran-induktif-silogisme/
http://seviaindah.blogspot.com/2011/04/contoh-rantai-deduksi.html
Jakarta
0 komentar:
Posting Komentar