BAB
I PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Masih
banyak anak yang diperlakuan tidak selayaknya yang ia terima terutama di
Indonesia. Banyaknya kejadian ini karena faktor ekonomi yang tidak memadai
sehingga anak kehilangan hak yang seharusnya ia dapati layaknya anak-anak
lainnya. Padahal dapat diketahui banyak undang-undang yang menjaga hak-hak
anak. Selain itu banyak pula contoh kasus
seperti penculikan anak, kasus perdagangan anak, anak yang terpapar
asap rokok, anak yang menjadi korban peredaran narkoba, anak
yang tidak dapat mengakses sarana pendidikan, anak yang belum tersentuh layanan
kesehatan dan anak yang tidak punya akta kelahiran. Dari data
induk lembaga perlindungan anak yang ada di 30 provinsi di Indonesia dan
layanan pengaduan lembaga tersebut, pada tahun 2006 jumlah kasus
pelanggaran hak anak yang terpantau sebanyak 13.447.921 kasus dan pada 2007
jumlahnya meningkat 40.398.625 kasus. Disamping itu Komnas Anak
juga melaporkan bahwa selama periode Januari-Juni
2008 sebanyak 12.726 anak menjadi korban kekerasan seksual dari orang
terdekat mereka. Bahkan PBB telah mendirikan organisasi khusus
tentang anak yang dinamakan UNICEF. Ini ditekankan khususnya terhadap keluarga
agar mengetahui bahwa pentingnya menjaga hak-hak anak agar menjadi manusia
seutuhnya dikemudian hari.
1.2.
Rumusan
Masalah
Suatu negara itu
dapat dikatakan sebagai negara yang maju bukan hanya dilihat dari perkembangan
ekonominya saja, akan tetapi sebuah negara yang maju harus dapat menjamin
kesejahteraan rakyatnya terutama dalam hal keamanan dan kenyamanan terutama
anak-anak sebagai bibit dan ujung tombak kemajuan bangsa. Oleh karena itu
pemerintah harus lebih memperhatikan kasus pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM)
dan Kekerasan Terhadap Anak.
Dan beberapa
pertanyaan untuk melaksanakan semua itu adalah:
- Apakah yang dimaksud dengan kekerasan terhadap anak?
- Bagaimana
solusi untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak?
- Apa hak-hak
yang harus diterima anak?
- Apa
Undang-Undang atau peraturan yang mengatur tentang perlindungan anak?
Seperti yang
dipaparkan di atas, keempat poin itulah yang akan menjadi bahasan utama dalam
makalah ini. Dengan berbekal penelitian dan buku referensi, maka kita akan
menemukan suatu penjelasan terbaik mengenai pentingnya hak perlindungan anak.
1.3.
Tujuan
Penelitian
Dengan dilakukan penelitian
tentang pentingnya Perlindungan Anak di Indonesia, maka akan bisa diketahui
lebih lanjut mengenai sebab-sebab terjadinya kekerasan pada anak, Mengidentifikasi
faktor-faktor yang membuat seseorang melakukan tindakan kekerasan., Mengetahui
kondisi anak yang mengalami tindakan kekerasan, Mencari solusi untuk mencegah
terjadinya kekerasan terhadap anak, Mencari tahu penyebab terjadinya kekerasan
terhadap anak. Selain itu, dengan adanya pembahasan ini, bertujuan
agar public mengetahui bahwa pentingnya dalam melindungi anak-anak serta
memberikan hak yang seharusnya ia dapati. Dan saya berharap agar karya ini
dapat hendaknya menguragi angka kekerasan khususnya terhadap anak.
1.4.
Manfaat
Penelitian
Seperti yang sudah
sering disebutkan sebelumnya, penelitian mengenai Hak Perlindungan Anak akan
sangat bermanfaat untuk memberikan kesadaran masyarakat akan pentingnya dalam
melindungi anak-anak serta memberikan hak yang seharusnya ia dapati. Tentunya setiap pekerjaan memiliki
tujuan serta manfaat masing-masing. Manfaat Penulisan
dari karya ilmiah ini adalah untuk menyadari orangtua bahwa sebenarnya
kekerasan terhadap anak tidak lagi pantas dilakukan, karena anak-anak juga
mendapat perlindungan dari Komisi Perlindungan Anak. Disini juga anak-anak
harus menjaga sikap sehingga emosi orangtua tidak terpancing untuk melakukan
tindakan kekerasan. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran dari dalam diri,
baik orangtua maupun anak.
BAB
II LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Kekerasan Terhadap Anak
Banyak orangtua menganggap kekerasan pada anak adalah hal yang wajar.
Mereka beranggapan kekerasan adalah bagian dari mendisiplinkan anak. Mereka
lupa bahwa orangtua adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam mengupayakan
kesejahteraan, perlindungan, peningkatan kelangsungan hidup, dan mengoptimalkan
tumbuh kembang anaknya. Keluarga adalah tempat pertama kali anak belajar
mengenal aturan yang berlaku di lingkungan keluarga dan masyarakat. Sudah
barang tentu dalam proses belajar ini, anak cenderung melakukan kesalahan.
Bertolak dari kesalahan yang dilakukan, anak akan lebih mengetahui
tindakan-tindakan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, patut atau tidak patut.
Namun orang tua menyikapi proses belajar anak yang salah ini dengan kekerasan.
Bagi orangtua, tindakan anak yang melanggar perlu dikontrol dan dihukum. bagi
orangtua tindakan yang dilakukan anak itu melanggar sehingga perlu dikontrol
dan dihukum.
Wikipedia Indonesia (2006) memberikan pengertian bahwa kekerasan merujuk
pada tindakan agresi dan pelanggaran (penyiksaan, pemerkosaan, pemukulan, dll.)
yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyebabkan penderitaan atau menyakiti
orang lain. Istilah kekerasan juga berkonotasi kecenderungan agresif untuk
melakukan perilaku yang merusak. Kekerasan terjadi ketika seseorang menggunakan
kekuatan, kekuasaan, dan posisi nya untuk menyakiti orang lain dengan sengaja,
bukan karena kebetulan (Andez, 2006). Kekerasan juga meliputi ancaman, dan
tindakan yang bisa mengakibatkan luka dan kerugian. Luka yang diakibatkan bisa
berupa luka fisik, perasaan, pikiran, yang merugikan kesehatan dan
mental.kekerasan anak Menurut Andez (2006) kekerasan pada anak adalah segala
bentuk tindakan yang melukai dan merugikan fisik, mental, dan seksual termasuk
hinaan meliputi: Penelantaran dan perlakuan buruk, Eksploitasi termasuk
eksploitasi seksual, serta trafficking/ jual-beli anak. Sedangkan Child Abuse
adalah semua bentuk kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh mereka yang
seharusnya bertanggung jawab atas anak tersebut atau mereka yang memiliki kuasa
atas anak tersebut, yang seharusnya dapat di percaya, misalnya orang tua,
keluarga dekat, dan guru.
2.2 Sebab Terjadinya Kekerasan Pada Anak
Banyak orang sukar memahami mengapa
seseorang melukai anaknya. Masyarakat sering beranggapan bahwa orang yang
menganiaya anaknya mengalami kelainan jiwa. Tetapi banyak pelaku penganiayaan
sebenarnya menyayangi anak-anaknya namun cenderung bersikap kurang sabar dan
kurang dewasa secara pribadi. Karakter seperti ini membuatnya sulit memenuhi
kebutuhan anak-anaknya dan meningkatkan kemungkinan tindak kekerasan secara
fisik atau emosional. Namun, tidak ada penjelasan yang menyeluruh tentang
penganiayaan pada anak. Hal itu terjadi sebagai akibat kombinasi faktor dari
kepribadian, sosial dan budaya. Menurut Richard J. Gelles,
Ph.D. Faktor-faktor penyebab penganiayaan ini dapat dikelompokkan dalam
empat kategori utama, yaitu sebagai berikut :
2.2.1Penyebaran perilaku
jahat antar generasi
Banyak anak belajar perilaku jahat dari orang tua mereka dan kemudian berkembang menjadi tindak kekerasan. Jadi, perilaku kekerasan diteruskan antar generasi. Penelitian menunjukkan bahwa 30% anak-anak korban tindak kekerasan menjadi orang tua pelaku tindak kekerasan. Mereka meniru perilaku ini sebagai model ketika mereka menjadi orang tua kelak.
Namun, beberapa ahli percaya bahwa yang menjadi penentu akhir adalah apakah anak menyadari bahwa perilaku kasar yang dialaminya tersebut salah atau tidak. Anak-anak yang yakin bahwa mereka berbuat salah dan pantas mendapat hukuman akan menjadi orang tua pelaku kekerasan lebih sering daripada anak-anak yang yakin bahwa orang tua mereka salah kalau berlaku kasar pada mereka.
2.2.2 Ketegangan Sosial
Stres yang ditimbulkan oleh berbagai kondisi sosial meningkatkan risiko tindak kekerasan pada anak dalam sebuah keluarga. Kondisi ini mencakup :
• Pengangguran.
• Sakit-penyakit.
• Kemiskinan dalam rumah tangga.
• Ukuran keluarga yang besar.
• Kehadiran seorang bayi atau orang cacat mental dalam rumah.
• Kematian anggota keluarga.
• Penggunaan alkohol dan obat-obatan.
2.2.3 Isolasi sosial
Para orang tua atau pengasuh yang melakukan tindak kekerasan pada anak cenderung kurang bersosialisasi. Beberapa orang tua pelaku kekerasan bahkan bergabung dengan berbagai organisasi kemasyarakatan, dan kebanyakan kurang berkomunikasi dengan teman-teman atau kerabatnya. Kurangnya sosialisasi ini menyebabkan kurangnya dukungan masyarakat pada orang tua pelaku tindak kekerasan untuk menolong mereka menghadapi ketegangan sosial atau ketegangan dalam keluarga.
Faktor budaya sering menentukan banyaknya dukungan komunitas yang diterima sebuah keluarga. Komunitas itu berupa para tetangga, kerabat dan teman-teman yang membantu pemeliharaan anak ketika orang tuanya tidak mau atau tidak mampu. Di AS, para orang tua sering menaruh tanggung jawab pemeliharaan pada diri anak sendiri, yang berisiko tinggi mengakibatkan tegangan dan tindak kekerasan pada anak.
Banyak anak belajar perilaku jahat dari orang tua mereka dan kemudian berkembang menjadi tindak kekerasan. Jadi, perilaku kekerasan diteruskan antar generasi. Penelitian menunjukkan bahwa 30% anak-anak korban tindak kekerasan menjadi orang tua pelaku tindak kekerasan. Mereka meniru perilaku ini sebagai model ketika mereka menjadi orang tua kelak.
Namun, beberapa ahli percaya bahwa yang menjadi penentu akhir adalah apakah anak menyadari bahwa perilaku kasar yang dialaminya tersebut salah atau tidak. Anak-anak yang yakin bahwa mereka berbuat salah dan pantas mendapat hukuman akan menjadi orang tua pelaku kekerasan lebih sering daripada anak-anak yang yakin bahwa orang tua mereka salah kalau berlaku kasar pada mereka.
2.2.2 Ketegangan Sosial
Stres yang ditimbulkan oleh berbagai kondisi sosial meningkatkan risiko tindak kekerasan pada anak dalam sebuah keluarga. Kondisi ini mencakup :
• Pengangguran.
• Sakit-penyakit.
• Kemiskinan dalam rumah tangga.
• Ukuran keluarga yang besar.
• Kehadiran seorang bayi atau orang cacat mental dalam rumah.
• Kematian anggota keluarga.
• Penggunaan alkohol dan obat-obatan.
2.2.3 Isolasi sosial
Para orang tua atau pengasuh yang melakukan tindak kekerasan pada anak cenderung kurang bersosialisasi. Beberapa orang tua pelaku kekerasan bahkan bergabung dengan berbagai organisasi kemasyarakatan, dan kebanyakan kurang berkomunikasi dengan teman-teman atau kerabatnya. Kurangnya sosialisasi ini menyebabkan kurangnya dukungan masyarakat pada orang tua pelaku tindak kekerasan untuk menolong mereka menghadapi ketegangan sosial atau ketegangan dalam keluarga.
Faktor budaya sering menentukan banyaknya dukungan komunitas yang diterima sebuah keluarga. Komunitas itu berupa para tetangga, kerabat dan teman-teman yang membantu pemeliharaan anak ketika orang tuanya tidak mau atau tidak mampu. Di AS, para orang tua sering menaruh tanggung jawab pemeliharaan pada diri anak sendiri, yang berisiko tinggi mengakibatkan tegangan dan tindak kekerasan pada anak.
2.2.4. Struktur Keluarga
Tipe keluarga tertentu memiliki risiko anak terlantar dan terjadi tindak kekerasan pada anak. Sebagai contoh :
• Orang tua tunggal lebih sering melakukan tindak kekerasan pada anak-anak daripada bukan orang tua tunggal. Hal ini disebabkan keluarga-keluarga dengan orang tua tunggal biasanya lebih sedikit mendapatkan uang daripada keluarga lainnya, sehingga hal ini dapat meningkatnya risiko tindak kekerasan.
• Keluarga-keluarga dengan keretakan perkawinan yang kronis atau tindak kekerasan pada pasangannya mempunyai tingkat tindak kekerasan pada anak lebih tinggi daripada keluarga-keluarga tanpa masalah seperti ini.
Tipe keluarga tertentu memiliki risiko anak terlantar dan terjadi tindak kekerasan pada anak. Sebagai contoh :
• Orang tua tunggal lebih sering melakukan tindak kekerasan pada anak-anak daripada bukan orang tua tunggal. Hal ini disebabkan keluarga-keluarga dengan orang tua tunggal biasanya lebih sedikit mendapatkan uang daripada keluarga lainnya, sehingga hal ini dapat meningkatnya risiko tindak kekerasan.
• Keluarga-keluarga dengan keretakan perkawinan yang kronis atau tindak kekerasan pada pasangannya mempunyai tingkat tindak kekerasan pada anak lebih tinggi daripada keluarga-keluarga tanpa masalah seperti ini.
•
Keluarga-keluarga yang didalamnya baik suami atau istri mendominasi pengambilan
keputusan yang penting – seperti dimana mereka akan tinggal, apa pekerjaan yang
dilakukan, kapan mempunyai anak, dan berapa banyak uang yang dihabiskan untuk
makanan dan rumah – mempunyai tingkat tindak kekerasan pada anak lebih tinggi
daripada keluarga-keluarga yang di dalamnya para orang tua membagi tanggung
jawab untuk keputusan-keputusan ini.
2.3 Dampak Kekerasan Pada Anak
Efek tindakan dari korban penganiayaan fisik dapat diklasifikasikan dalam
beberapa kategori. Ada anak yang menjadi negatif dan agresif serta mudah
frustasi; ada yang menjadi sangat pasif dan apatis; ada yang tidak mempunyai
kepibadian sendiri; ada yang sulit menjalin relasi dengan individu lain dan ada
pula yang timbul rasa benci yang luar biasa terhadap dirinya sendiri. Selain
itu Moore juga menemukan adanya kerusakan fisik, seperti perkembangan tubuh
kurang normal juga rusaknya sistem syaraf.
Anak-anak korban kekerasan umumnya menjadi sakit hati, dendam, dan
menampilkan perilaku menyimpang di kemudian hari. Bahkan, Komnas PA (dalam
Nataliani, 2004) mencatat, seorang anak yang berumur 9 tahun yang menjadi
korban kekerasan, memiliki keinginan untuk membunuh ibunya.
Berikut ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan kekerasan terhadap anak
(child abuse) , antara lain;
1) Dampak kekerasan fisik, anak yang mendapat perlakuan kejam dari orang
tuanya akan menjadi sangat agresif, dan setelah menjadi orang tua akan berlaku
kejam kepada anak-anaknya. Orang tua agresif melahirkan anak-anak yang agresif,
yang pada gilirannya akan menjadi orang dewasa yang menjadi agresif. Lawson
(dalam Sitohang, 2004) menggambarkan bahwa semua jenis gangguan mental ada
hubungannya dengan perlakuan buruk yang diterima manusia ketika dia masih
kecil. Kekerasan fisik yang berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu lama
akan menimbulkan cedera serius terhadap anak, meninggalkan bekas luka secara
fisik hingga menyebabkan korban meninggal dunia.
2) Dampak kekerasan psikis. Unicef (1986) mengemukakan, anak yang sering
dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru
perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan
kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol
dan obat-obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri. Menurut Nadia (1991),
kekerasan psikologis sukar diidentifikasi atau didiagnosa karena tidak
meninggalkan bekas yang nyata seperti penyiksaan fisik.
Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang
termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri,
kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak, menarik diri dari lingkungan,
penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri.
3) Dampak kekerasan seksual. Menurut Mulyadi (Sinar Harapan, 2003)
diantara korban yang masih merasa dendam terhadap pelaku, takut menikah, merasa
rendah diri, dan trauma akibat eksploitasi seksual, meski kini mereka sudah
dewasa atau bahkan sudah menikah. Bahkan eksploitasi seksual yang dialami
semasa masih anak-anak banyak ditengarai sebagai penyebab keterlibatan dalam
prostitusi. Jika kekerasan seksual terjadi pada anak yang masih kecil pengaruh
buruk yang ditimbulkan antara lain dari yang biasanya tidak mengompol jadi
mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan,
atau bahkan simtom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dll
(dalam Nadia, 1991);
4) Dampak penelantaran anak. Pengaruh yang paling terlihat jika anak
mengalami hal ini adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua
terhadap anak, Hurlock (1990) mengatakan jika anak kurang kasih sayang
dari orang tua menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal mengembangkan
perilaku akrab, dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada
masa yang akan datang.
Dampak kekerasan terhadap anak lainnya (dalam Sitohang, 2004) adalah
kelalaian dalam mendapatkan pengobatan menyebabkan kegagalan dalam merawat anak
dengan baik. Kelalaian dalam pendidikan, meliputi kegagalan dalam mendidik anak
mampu berinteraksi dengan lingkungannya gagal menyekolahkan atau menyuruh anak
mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah.
2.4 Solusi Untuk Mencegah Terjadinya Kekerasan
Terhadap Anak.
Pendidikan
dan Pengetahuan Orang Tua Yang Cukup
Dari beberapa faktor yang telah kita bahas diatas, maka perlu kita ketahui bahwa tindak kekerasan terhadap anak, sangat berpengaruh terhahap perkembangannya baik psikis maupun fisik mereka. Oleh karena itu, perlu kita hentikan tindak kekerasan tersebut. Dengan pendidikan yang lebih tinggi dan pengetahuan yang cukup diharapkan orang tua mampu mendidik anaknya kearah perkembangan yang memuaskan tanpa adanya tindak kekerasan.
Dari beberapa faktor yang telah kita bahas diatas, maka perlu kita ketahui bahwa tindak kekerasan terhadap anak, sangat berpengaruh terhahap perkembangannya baik psikis maupun fisik mereka. Oleh karena itu, perlu kita hentikan tindak kekerasan tersebut. Dengan pendidikan yang lebih tinggi dan pengetahuan yang cukup diharapkan orang tua mampu mendidik anaknya kearah perkembangan yang memuaskan tanpa adanya tindak kekerasan.
Keluarga
Yang Hangat Dan Demokratis
Psikolog terpesona dengan penelitian Harry Harlow pada tahun 60-an memisahkan anak-anak monyet dari ibunya, kemudian ia mengamati pertumbuhannya. Monyet-monyet itu ternyata menunjukkan perilaku yang mengenaskan, selalu ketakutan, tidak dapat menyesuaikan diri dan rentan terhadap berbagai penyakit. Setelah monyet-monyet itu besar dan melahirkan bayi-bayi lagi, mereka menjadi ibu-ibu yang galak dan berbahaya. Mereka acuh tak acuh terhadap anak-anaknya dan seringkali melukainya.
Dalam sebuah study terbukti bahwa IQ anak yang tinggal di rumah yang orangtuanya acuh tak acuh, bermusuhan dan keras, atau broken home, perkembangan IQ anak mengalami penurunan dalam masa tiga tahun. Sebaliknya anak yang tinggal di rumah yang orang tuanya penuh pengertian, bersikap hangat penuh kasih sayang dan menyisihkan waktunya untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya, menjelaskan tindakanya, memberi kesempatan anak untuk mengambil keputusan, berdialog dan diskusi, hasilnya rata-rata IQ ( bahkan Kecerdasan Emosi ) anak mengalami kenaikan sekitar 8 point
Hasil penelitian R. Study juga membuktikan bahwa 63 % dari anak nakal pada suatu lembaga pendidikan anak-anak dilenkuen ( nakal ), berasal dari keluarga yang tidak utuh ( broken home ). Kemudian hasil penelitian K. Gottschaldt di Leipzig ( Jerman ) menyatakan bahwa 70, 8 persen dari anak-anak yang sulit di didik ternyata berasal dari keluarga yang tidak teratur, tidak utuh atau mengalami tekanan hidup yang terlampau berat. (Ahmad, Aminah . 2006 :
Psikolog terpesona dengan penelitian Harry Harlow pada tahun 60-an memisahkan anak-anak monyet dari ibunya, kemudian ia mengamati pertumbuhannya. Monyet-monyet itu ternyata menunjukkan perilaku yang mengenaskan, selalu ketakutan, tidak dapat menyesuaikan diri dan rentan terhadap berbagai penyakit. Setelah monyet-monyet itu besar dan melahirkan bayi-bayi lagi, mereka menjadi ibu-ibu yang galak dan berbahaya. Mereka acuh tak acuh terhadap anak-anaknya dan seringkali melukainya.
Dalam sebuah study terbukti bahwa IQ anak yang tinggal di rumah yang orangtuanya acuh tak acuh, bermusuhan dan keras, atau broken home, perkembangan IQ anak mengalami penurunan dalam masa tiga tahun. Sebaliknya anak yang tinggal di rumah yang orang tuanya penuh pengertian, bersikap hangat penuh kasih sayang dan menyisihkan waktunya untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya, menjelaskan tindakanya, memberi kesempatan anak untuk mengambil keputusan, berdialog dan diskusi, hasilnya rata-rata IQ ( bahkan Kecerdasan Emosi ) anak mengalami kenaikan sekitar 8 point
Hasil penelitian R. Study juga membuktikan bahwa 63 % dari anak nakal pada suatu lembaga pendidikan anak-anak dilenkuen ( nakal ), berasal dari keluarga yang tidak utuh ( broken home ). Kemudian hasil penelitian K. Gottschaldt di Leipzig ( Jerman ) menyatakan bahwa 70, 8 persen dari anak-anak yang sulit di didik ternyata berasal dari keluarga yang tidak teratur, tidak utuh atau mengalami tekanan hidup yang terlampau berat. (Ahmad, Aminah . 2006 :
1).Membangun
Komunikasi Yang Efektif
Kunci persoalan kekerasan terhadap anak disebabkan karena tidak adanya komunikasi yang efektif dalam sebuah keluarga. Sehingga yang muncul adalah stereotyping (stigma) dan predijuce (prasangka). Dua hal itu kemudian mengalami proses akumulasi yang kadang dibumbui intervensi pihak ketiga. Sebagai contoh kasus dua putri kandung pemilik sebuah pabrik rokok di Malang Jawa Timur. Amy Victoria Chan (10) dan Ann Jessica Chan (9) diduga jadi korban kekerasan dari ibu kandung mereka saat bermukim di Kanada. Ayahnya terlambat tahu karena sibuk mengurus bisnis dan hanya sesekali mengunjungi mereka. Mereka dituntut ibunya agar meraih prestasi di segala bidang sehingga waktu mereka dipenuhi kegiatan belajar dan beragam kursus seperti balet, kumon, piano dan ice skating. Jika tidak bersedia, mereka disiksa dengan segala cara. Mereka juga pernah dibiarkan berada di luar rumah saat musim dingin.(Kompas edisi 24 Januari 2006). Kejadian ini mungkin tidak terjadi jika ayahnya selalu mendampingi anak-anaknya.
Untuk menghindari kekerasan terhadap anak adalah bagaimana anggota keluarga saling berinteraksi dengan komunikasi yang efektif. Sering kita dapatkan orang tua dalam berkomunikasi terhadap anaknya disertai keinginan pribadi yang sangat dominan, dan menganggap anak sebagai hasil produksi orang tua, maka harus selalu sama dengan orang tuanya dan dapat diperlakukan apa saja.
Bermacam-macam sikap orang tua yang salah atau kurang tepat serta akibat-akibat yang mungkin ditimbulkannya antara lain.
Kunci persoalan kekerasan terhadap anak disebabkan karena tidak adanya komunikasi yang efektif dalam sebuah keluarga. Sehingga yang muncul adalah stereotyping (stigma) dan predijuce (prasangka). Dua hal itu kemudian mengalami proses akumulasi yang kadang dibumbui intervensi pihak ketiga. Sebagai contoh kasus dua putri kandung pemilik sebuah pabrik rokok di Malang Jawa Timur. Amy Victoria Chan (10) dan Ann Jessica Chan (9) diduga jadi korban kekerasan dari ibu kandung mereka saat bermukim di Kanada. Ayahnya terlambat tahu karena sibuk mengurus bisnis dan hanya sesekali mengunjungi mereka. Mereka dituntut ibunya agar meraih prestasi di segala bidang sehingga waktu mereka dipenuhi kegiatan belajar dan beragam kursus seperti balet, kumon, piano dan ice skating. Jika tidak bersedia, mereka disiksa dengan segala cara. Mereka juga pernah dibiarkan berada di luar rumah saat musim dingin.(Kompas edisi 24 Januari 2006). Kejadian ini mungkin tidak terjadi jika ayahnya selalu mendampingi anak-anaknya.
Untuk menghindari kekerasan terhadap anak adalah bagaimana anggota keluarga saling berinteraksi dengan komunikasi yang efektif. Sering kita dapatkan orang tua dalam berkomunikasi terhadap anaknya disertai keinginan pribadi yang sangat dominan, dan menganggap anak sebagai hasil produksi orang tua, maka harus selalu sama dengan orang tuanya dan dapat diperlakukan apa saja.
Bermacam-macam sikap orang tua yang salah atau kurang tepat serta akibat-akibat yang mungkin ditimbulkannya antara lain.
Orang
tua yang selalu khawatir dan selalu melindungi
Anak yang diperlakukan dengan penuh kekhawatiran, sering dilarang dan selalu melindungi, akan tumbuh menjadi anak yang penakut, tidak mempunyai kepercayaan diri, dan sulit berdiri sendiri. Dalam usaha untuk mengatasi semua akibat itu, mungkin si anak akan berontak dan justru akan berbuat sesuatu yang sangat dikhawatirkan atau dilarang orang tua. Konflik ini bisa berakibat terjadinya kekerasan terhadap anak.
Anak yang diperlakukan dengan penuh kekhawatiran, sering dilarang dan selalu melindungi, akan tumbuh menjadi anak yang penakut, tidak mempunyai kepercayaan diri, dan sulit berdiri sendiri. Dalam usaha untuk mengatasi semua akibat itu, mungkin si anak akan berontak dan justru akan berbuat sesuatu yang sangat dikhawatirkan atau dilarang orang tua. Konflik ini bisa berakibat terjadinya kekerasan terhadap anak.
Orang
tua yang terlalu menuntut
Anak yang dididik dengan tuntutan yang tinggi mungkin akan mengambil nilai-nilai yang terlalu tinggi sehingga tidak realistic. Bila anak tidak mau akan terjadi pemaksaan orang tua yang berakibat terjadinya kekerasan terhadap anak seperti contoh kasus di atas.
Anak yang dididik dengan tuntutan yang tinggi mungkin akan mengambil nilai-nilai yang terlalu tinggi sehingga tidak realistic. Bila anak tidak mau akan terjadi pemaksaan orang tua yang berakibat terjadinya kekerasan terhadap anak seperti contoh kasus di atas.
Orang
tua yang terlalu keras.
Anak yang diperlakukan demikian cenderung tumbuh dan berkembang menjadi anak yang penurut namun penakut. Bila anak berontak terhadap dominasi orang tuanya ia akan menjadi penentang. Konflik ini bisa berakibat terjadi kekerasan terhadap anak. (Erwin. 1990 : 31 – 32).
Anak yang diperlakukan demikian cenderung tumbuh dan berkembang menjadi anak yang penurut namun penakut. Bila anak berontak terhadap dominasi orang tuanya ia akan menjadi penentang. Konflik ini bisa berakibat terjadi kekerasan terhadap anak. (Erwin. 1990 : 31 – 32).
2.5 Upaya Yang Dilakukan Pemeritahan
Mengsosialisasi Undang-Undang
No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi pada
perempuan dan anak-anak merupakan masalah yang sulit di atasi. Umumnya
masyarakat menganggap bahwa anggota keluarga itu milik laki-laki dan masalah
kekerasan di dalam rumah tangga adalah masalah pribadi yang tidak dapat
dicampuri oleh orang lain. Sebetulnya Indonesia telah meratifikasi konvensi
mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan dan
Undang-Undang No. 7/1984, Undang-undang no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan
anak serta Undang-Undang No. 29 tahun 1999. (Suprapti, 2006 : 4). Sering pejabat
terkait seperti Kepolisian, Kejaksaan dan Kehakiman masih banyak yang kurang
memahami sehingga setiap ada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan
anak-anak atau Hak Azazi Manusia masih selalu mengacu pada KUH Pidana.
Oleh
karena itu kita merasa sangat perlu untuk mensosialisasikan UU No. 23 Tahun
2004 tanggal 22 September 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah
Tangga, karena keutuhan dan kerukunan rumah tangga yang bahagia, aman, tentram
dan damai merupakan dambaan setiap orang dalam rumah tangga agar dapat
melaksanaan hak dan kewajibannya yang didasari oleh agama, perlu dikembangkan
dalam membangun keutuhan rumah tangga.
Sosialisasi ini bisa melalui banyak cara antara lain penayangan iklan di televisi, melalui radio, poster, penataran, seminar dan distribusi buku UU tersebut ke masyarakat umum, akademisi, instansi pemerintah termasuk lini paling depan yaitu ibu-ibu PKK. UU No. 23/2004 sebetulnya masih kurang memuaskan karena bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak masih merupakan delik aduan, maksudnya adalah korban sendiri yang melaporkan secara langsung kekerasan dalam rumah tangga kepada kepolisian. Penelitian membuktikan bahwa kekerasan terhadap anak justru dilakukan oleh orang dekat artinya orang yang dikenal oleh korban. Pelaku tindak kekerasan fisik dan seksual menurut pemantauan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Barat tahun 2003 adalah orang-orang terdekat yaitu tetangga, orang tua, paman, kakek, teman, pacar serta saudara. Hal ini dapat juga dilihat dari lokasi tindak kekerasan paling banyak terjadi di rumah korban atau rumah pelaku.Setidaknya ini menunjukkan bahwa pelaku adalah orang yang dekat dengan korban. (Pikiran Rakyat, edisi 20 Januari 2006.
Sosialisasi ini bisa melalui banyak cara antara lain penayangan iklan di televisi, melalui radio, poster, penataran, seminar dan distribusi buku UU tersebut ke masyarakat umum, akademisi, instansi pemerintah termasuk lini paling depan yaitu ibu-ibu PKK. UU No. 23/2004 sebetulnya masih kurang memuaskan karena bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak masih merupakan delik aduan, maksudnya adalah korban sendiri yang melaporkan secara langsung kekerasan dalam rumah tangga kepada kepolisian. Penelitian membuktikan bahwa kekerasan terhadap anak justru dilakukan oleh orang dekat artinya orang yang dikenal oleh korban. Pelaku tindak kekerasan fisik dan seksual menurut pemantauan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Barat tahun 2003 adalah orang-orang terdekat yaitu tetangga, orang tua, paman, kakek, teman, pacar serta saudara. Hal ini dapat juga dilihat dari lokasi tindak kekerasan paling banyak terjadi di rumah korban atau rumah pelaku.Setidaknya ini menunjukkan bahwa pelaku adalah orang yang dekat dengan korban. (Pikiran Rakyat, edisi 20 Januari 2006.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Landasan teori yang tersaji dalam Bab sebelumnya
masih memerlukan penyempurnaan. Untuk menyempurnakan sebuah karya ilmiah,
tentulah penelitian sangat dibutuhkan. Suatu data mentah yang sudah tersedia di
sekitar kita, sangat perlu diolah kembali melalui penelitian apabila ingin
membuahkan hasil. Begitu pula dengan karya ilmiah ini. Agar isinya dapat
dipercaya dan dipertanggungjawabkan, tentunya akan dilakukan penelitian,
melalui metode yang penulis anggap cocok untuk menyempurnakan penelitian di
karya ilmiah ini.
3.1.
Jenis Data
Data yang dapat diambil untuk sebuah penelitian,
dapat terbagi menjadi beberapa, yakni data primer dan data sekunder. Data
primer adalah data yang diambil langsung dari lapangan atau tempat objek
penelitian berada. Sedangkan data sekunder adalah data yang sebelumnya memang
sudah tersedia di berbagai sumber seperti inernet, buku-buku referensi, dan
lain sebagainya (intinya tidak diambil langsung dari lapangan oleh si
peneliti).
Data yang diambil oleh penulis untuk melengkapi
karya ilmiah ini adalah data sekunder, spesifiknya data yang berasal dari
buku-buku referensi, juga dari sumber internet sebagai data tambahan, untuk
bisa menghemat waktu, tenaga, dan biaya.
3.2.
Metode Penelitian yang akan Digunakan.
Pada sub-bab sebelumnya kita telah mengetahui jenis
data yang akan diolah oleh penulis, yaitu data sekunder. Namun, data-data
tersebut tidak akan berarti besar apabila tanpa diikuti oleh sebuah penelitian.
Penelitian yang dilakukan menggunakan metode Library Research atau penelitan kepustakaan. Adapun menggunakan
metode Internet Reseach hanya untuk
mendapatkan data tambahan yang bisa memperkuat data-data yang berasal dari
buku.
BAB IV PEMBAHASAN
Setelah dilakukan penelitian yang sudah dijelaskan
pada bab sebelumnya, kita akan bisa
mengetahui lebih banyak mengenai Kekerasan Terhadap Anak dan Mengatur Hak Hak
Perlindungan Anak yang terdapat pada Pasal-pasal Undang Undang yang mengandung
perlindungan anak. Pembahasan mengenai hasil penelitian tersebut akan dibahas
pada beberapa sub-bab berikut ini.
4.1.Pembahasan
Pengertian Anak.
Menurut John Locke (1986) anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka
terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan. Sobur (1988), mengartikan anak
sebagai orang yang mempunyai pikiran, perasaan, sikap dan minat berbeda dengan
orang dewasa dengan segala keterbatasan. Haditono (1992), berpendapat bahwa anak merupakan mahluk yang
membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya. Selain
itu anak merupakan bagian dari keluarga, dan keluarga memberi kesempatan bagi
anak untuk belajar tingkah laku yang penting untuk perkembangan yang cukup baik
dalam kehidupan bersama. Augustinus
(1987), yang dipandang sebagai peletak dasar permulaan psikologi
anak, mengatakan bahwa anak tidaklah sama dengan orang dewasa, anak mempunyai
kecenderungan untuk menyimpang dari hukum dan ketertiban yang disebabkan oleh
keterbatasan pengetahuan dan pengertian terhadap realita kehidupan, anak-anak
lebih mudah belajar dengan contoh-contoh yang diterimanya dari aturan-aturan
yang bersifat memaksa.
4.2.
Pembahasan
Mengenai Hak-Hak Anak.
• Anak berhak mendapatkan nama dan kewarganegaraan(Pasal
7)
• Tidak
ada satu pihak pun bisa seenaknya merubah identitas dan kewarganegaraan anal
(Pasal 8)
• Anak memiliki
hak berkarya, berpendapat dan berkumpul (Pasal 12, 13, 15)
• ANAK memiliki hak berkarya, berpendapat dan berkumpul
(Pasal 12, 13, 15)
• ANAK berhak mendapat dan mengetahui informasi yang
bermanfaat (Pasal 13 & 17)
• Kehidupan
pribadi Ku, harus dilindungi dari campur tangan semena-mena dan berbagai
serangan (Pasal 16)
• Anak
harus dilindungi dari tindak kekerasan dan perlakuan seenaknya (Pasal 37
(a))
• ANAK
berhak diasuh oleh orangtua dengan penuh kasih saying dalam keluarga bahagia
sampai dewasa (Pasal 5)
• Apabila
orangtua tidak mampu mereka harus dibantu agar ANAK terhindar dari bahaya Namun
apabila orangtua mengancam kelangsungan hidup KU (Pasal 19)
• Maka
ANAK berhak dicarikan orangtua asuh yang bias menjaga dan memelihara (Pasal
20) Atau iangkat anak secara hukum
dengan kepentingan terbaik sebagai pertimbangan
utama (Pasal 21)
• ANAK berhak mendapatkan pelayanan kesehatan dengan
baikPasal 24Agar tetap sehat ANAK perlu gizi,
pakaian dan tempat tinggal yang sehat pula Pasal 26
• Meski ANAK berbedakemampuan baik jasmani dan rohani
Anak tetap harus mendapat pendidikan dan perawatan khusus Pasal 23
• Pendidikan
sangat penting ANAK berhak mendapatkannya walaupun keluarga Ku miskin Pasal
28
• Dengan
pendidikan ANAK bias tumbuh menjadi manusia berguna menghargai sesama serta
memiliki kemampuan dan ketrampilanPasal 29
• Agar
ANAK bisa berkembang, rekreasi dan mengikuti kegiatan budaya menjadi hak Ku
pula Pasal 31
• Ketika
ada bencana alam atau kekacauan, terpaksa menjadi pengungsi, ANAK berhak memperoleh perlindungan dan bantuan
kemanusiaan Pasal 22
• Apabila
terjadi perang jangan paksa ANAK menjadi tentara Pasal 38
• Dalam
perang ANAK lah yang paling sering jadi korban, maka lindungi dan rawatlah ANAK
Pasal 39
• Manakala
ANAK terlibat kejahatan hukumlah ANAK sejauh tidak melanggar hak-hak yang
ANAK miliki Pasal 37
• Jangan biarkan ANAK berada dan tenggelam dalam keadaan
yang tidak menyenangkan dan mengancam jiwa anak
• Jangan paksa ANAK bekerja seperti orang dewasa Pasal
32
• Jangan jerumuskan ANAK untuk menggunakan narkotika,
obat-obatan terlarang dan minuman keras Pasal
33
• ANAK
harus dilindungi dari Kekerasan SeksualPasal 34
• ANAK harus dilindungi dari penculikan, penjualan dan
perdagangan anak Pasal 35
• Apabila ANAK kelompok minoritas, hak-hak anak tidak
boleh diingkari termasuk penghargaan
terhadap budaya, agama dan bahasaku Pasal 30
4.3.
Pembahasan
Mengenai Kewajiban
dan Tanggung Jawab Siapa Anak.
Yaitu negara
melalui pemerintah, DPR/D dan kehakiman dengan membuat bermacam-macam peraturan
terhadap perlindungan anak yang mana Negara berkewajiban atas
menghargai,melindungi UU No. 23/2002 dan memenuhi hak-hak anak sedangkan
yang bertanggung jawab terhadap anak adalah orang tua dan masyarakat dalam
melaksanakan hak-hak anak agar anak kelak menjadi manusia seutuhnya
4.4.
Pembahasan
Mengenai Undang-Undang Yang
Mengatur
Perlindungan Anak Di Indonesia
Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sudah disahkan selama dua tahun,
tetapi pelaksanaan di lapangan belum berjalan seperti yang diharapkan.
Masing-masing pihak yang terlibat dalam pelaksanaan undang-undang itu
menyampaikan sederet persoalan yang secara nyata mereka hadapi sehari-hari di
lapangan dalam pelaksanaan undang-undang tersebut.UNDANG-Undang Perlindungan
Anak diadakan dengan tujuan menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat
hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi optimal sesuai harkat dan
martabat kemanusiaan, mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
4.5.
Pembahasan
Mengenai Pengertian Kekerasan.
Pengertian
kekerasan dalam RUU KUHP adalah setiap perbuatan penyalahgunaan kekuatan fisik
dengan atau tanpa menggunakan sarana secara melawan hukum dan menimbulkan
bahaya bagi badan, nyawa, kemerdekaan, penderitaan fisik, seksual, psikologis,
termasuk menjadikan orang pingsan atau tidak berdaya. Ancaman kekerasan adalah
suatu hal atau keadaan yang menimbulkan rasa takut, cemas, atau khawatir
pada orang yang diancam. Secara fitrah Allah telah menganugerahkan rasa kasih dan sayang
orangtua kepada anaknya sebagai modal awal untuk melakukan pengasuhan dan
pendidikan anak
4.6.
Pembahasan
Mengenai Angka Kekerasan Terhadap Anak
Sejumlah peraturan terkait perlindungan anak dinilai
tidak bergigi. Kurangnya sosialisasi perundang-undangan tersebut membuat
eskalasi kekerasan terhadap anak tetap tinggi. Sebanyak 25 juta anak Indonesia
pernah mendapat tindak kekerasan. Angka itu kemudian dinilai mengkhawatirkan
oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari
Gumelar.
Data ini dihitung berdasarkan hasil survei kekerasan
terhadap perempuan dan anak pada 2006, yakni sekitar 2,29 juta anak pernah
menjadi korban kekerasan. Sementara jumlah penduduk anak menurut data Badan
Pusat Statistik (BPS), hingga pertengahan 2009, tercatat 85.146.600 jiwa atau
38,86 persen dari penduduk Indonesia.
"Jika
persentase kekerasan 2009 dianggap sama dengan 2006, berarti ada sekitar 25
juta anak pernah mendapat tindak kekerasan. Ini sudah mengkhawatirkan, perlu
ada kebijakan pencegahan dan penanganan," kata Linda seusai peluncuran
Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlundungan Anak Nomor 2
Tahun 2010 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Pencegahan dan Penanganan
Kekerasan terhadap Anak di Ja-karta, Jumat (19/3).
Sebenarnya
sejumlah peraturan terkait perlindungan anak sudah dibuat, di antaranya UU
Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang
HAM, dan UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang PKDRT. Namun keberadaan UU tersebut tidak membuat tingkat
kekerasan terhadap anak menurun.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
1.1.
Kesimpulan
Anak adalah makhluk sosial yang membutuhkan
pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya, anak juga mempunyai
perasaan, pikiran, kehendak tersendiri yang merupakan totalitas psikis dan
sifat-sifat serta struktur yang berlainan pada setiap fase perkembangan.
Kekerasan pun dalam pandamngan islam dinilai tidak baik dan bukan suatu solusi
dalam sebuah masalah.
Kekerasan terhadap anak
adalah segala bentuk perlakuan baik secara fisik maupun psikis yang berakibat
penderitaan terhadap anak.
Macam-macam kekerasan
terhadap anak:
1 . Penyiksaan Fisik
(Physical Abuse).
2. Penyiksaan Emosi
(Psychological/Emotional Abuse).
3.PelecehanSeksual(SexualAbuse).
4. Pengabaian (Child
Neglect).
Adapun faktor penyebab terjadinya kekerasan:
1. Lingkaran kekerasan
2. Stres dan kurangnya
dukungan
3. Pecandu alkohol atau
narkoba
4.. Menjadi saksi
kekerasan dalam rumah tangga
5. Kemiskinan dan akses
yang terbatas ke pusat ekonomi dan sosial saat masa-masa krisis.
6. Peningkatan krisis
dan jumlah kekerasan di lingkungan sekitar mereka.
Dan dampak dari
kekerasan tersebut ialah:
1) Kerusakan fisik atau
luka fisik;
2) Anak akan menjadi
individu yang kukrang percaya diri, pendendam dan agresif
3) Memiliki perilaku
menyimpang, seperti, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan
alkohol, sampai dengan kecenderungan bunuh diri;
4) Jika anak mengalami
kekerasan seksual maka akan menimbulkan trauma mendalam pada anak, takut
menikah, merasa rendah diri.
1.2.
Saran
Dengan adanya tulisan ilmiah mengenai pentingnya
perlindungan terhadap anak, saya berharap dengan adanya ini pembaca mengetahui
dan memahami apa yang seharusnya dilakukan terhadap anak
Seharusnya Negara melalui
pemerintah, DPR/D dan kehakiman memenuhi, memelihara serta menjaga hak-hak yang
harus diperoleh oleh anak serta keluarga dan masyarakat lebih memahami peran.
Dan Dokter sebagai klinisi
yang bertugas di lapangan harus mempunyai kemampuan dalam mengenali segala
kemungkinan bentuk penyiksaan dan penelantaran anak, terutama sekali dari
kunjungan pasien ke tempat prakteknya. Manifestasi klinis yang didapatkan pada
korban penyiksaan dan penelantaran anak jelas berbeda dengan manifestasi klinis
pada kasus kecelakaan biasa. Sehingga diharapkan dokter dapat lebih jeli dalam
mengenalinya.
Dokter mempunyai kewajiban untuk mendata bentuk
penyiksaan itu dan kemudian bekerjasama dengan pihak lain seperti pekerja
sosial dan penegak hukum dalam penindaklanjutan kasus penyiksaan dan
penelantaran anak.
Orangtua juga mempunyai kewajiban mendidik anaknya dengan baik tidak berupah
dengan kekerasan fisik atau mental.
DAFTAR PUSTAKA
Abu
Huraerah. (2006). Kekerasan Terhadap Anak Jakarta :Penerbit Nuansa,Emmy
H. Muchji
Achmad (2007). Pendidikan Kewarganegaraan Gunadarma, Jakarta :Penerbit Et Alle.
Hakim,Andi
nasution.2001.Pendidikan agama dan aklak bagi anak dan remaja.Jakarta:Wacana
Ilmu dan Pemikiran.
Hurlock,
Elizabeth B., 1973. Adolescent Development. Tokyo: Mc Graw-Hill
Kogakusha Ltd,
Hurluck,
E. , 1990. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
M.Irvan.wahid,
abdul. Huda, khairul.2004.Pendidikan HAM Modal Fundamental Bagi Anak Didik
Indonesia.Jakarta:CV Fauzan Inti Kreasi.
Mafrukhi dkk. (2006). Kompeten Berbahasa Indonesia.
Jakarta :Penerbit Erlangga.
Nasution
,Andi hakim.1992.Panduan Berfikir dan meneliti secara Ilmiah bagi Remaja.jakarta:PT
Gramedia Widiasarana.
Soekresno
S. Pd.(2007). Mengenali Dan Mencegah Terjadinya TindakKekerasan
Terhadap Anak.
UU PA No.
23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak
Sumber:
Komisi Perlindungan Anak Indonesia,http://www.kpai.go
. Didwonload
September
2007.http://www.setneg.go.id
Jakarta