“Serius amat lihat ke bawah. Ada apaan sih di bawah?” Tanya Cerryl
kepada Luna yang konsentrasi menatap lapangan basket. “Bukan apa-apa
kok.” Balas Luna, matanya tidak lepas dari lapangan basket. Cerryl
mencoba menelusuri pandangan sahabatnya itu.
“Lo ngeliatin Irfan sama pacarnya? Udah, cowok kayak gitu nggak usah
diinget. Atau lo masih sayang sama dia? Lo belum move on?” Tanya Cerryl
bertubi-tubi. “Nggak, Cuma lihat aja. Lagipula aku kan udah move on sama
dia.” Tunjuk Luna kepada laki-laki yang tengah bermain basket. Sesekali
ia melirik ke lantai tempat Luna dan Cerryl berdiri.
“Tuh, do’I liat kesini. Buruan jadian.” Ujar Cerryl mengompori. “Jadian?
Mau ditaruh mana mukaku kalau aku ngajak dia jadian?” balas Luna
terkejut. “Terus lo mau diem nunggu ditembak dia gitu?” Tanya Cerryl.
Luna terdiam. Ia tak tau mau menjawab apa. “Karena gue sahabat lo, gue
bakal bantuin lo PDKT sama dia.” Kata Cerryl. “Serius? Caranya?” Tanya
Luna antusias.
“Bentar, lo tau nama dia nggak?”
“Tau lah, Bima X IPA 4.”
“Besok lo harus berani ngobrol sama dia. Gimana?” Tanya Cerryl. Luna menyanggupi nasehat Cerryl.
Esoknya, dengan semangat menggebu Luna mendatangi kelas Bima.
Sebenarnya bukan masuk sih, Cuma lewat. Kebetulan Bima ada di tengah
jalan. “Permisi, maaf mau lewat.” Ujar Luna pelan. “Oh, ya. Silahkan.”
Bima mempersilahkan. Ia tersenyum menatap Luna. “Tuhan, senyumnya manis
sekali.” Kata Luna dalam hati.
Dalam perjalanan ke kelas, ia senyam senyum sendiri. “Gimana?
Gimana?” Tanya Cerryl. “Iya sih, Cuma ‘Oh, ya silahkan’ tapi senyumnya
itu lho!” Luna mengguncang tubuh Cerryl kegirangan. “Congrats deh
congrats. Pertahankan.” Cerryl mengacungkan jempolnya.
Beberapa hari berselang, Luna semakin banyak berceloteh tentang Bima.
Namun hari itu, Bima mendatangi mereka berdua. Tentu Luna yang aliran
darahnya mengalir lebih cepat. “Mau apa lo kesini?” Tanya Cerryl ketus.
“Gue kesini mau ngomong, kalau gue suka sama lo.”
Taaarrrr…
Petir seakan menyambar Luna setelah mendengar ucapan Bima. Sama
terkejutnya dengan Cerryl. “Lo mau kan jadi pacar gue?” Tanya Bima.
“Pergi lo dari sini!!!” usir Cerryl.
“Tapi jawab dulu pertanyaan gue. Lo ma…”
“Nggak! Sekarang pergi!” Cerryl memotong kalimat Bima. Ia tau Luna
sedang hancur saat ini. Ia tidak ingin Luna marah besar padanya. “Lun,
elo nggak marah kan sama gue? Lo kan tau sendiri gue udah punya pacar.
Mana mungkin gue naksir sama Bima.” Cerryl berusaha meyakinkan Luna yang
kini menerawang jauh.
“Nggak kok, lagipula aku udah bisa move on dari Bima.” Suara Luna
sedikit bergetar tanda ia menahan air mata. “Masa’ sih? Secepat itu?”
cerryl tau, Luna tidak semudah itu melupakan Bima. “Bener kok. Tuh,
orangnya yang itu.” Luna sembarang menunjuk. “Apa? Serius? Dia? Marda?”
cerryl tidak percaya.
“Iya, Marda. Memangnya kenapa?”
“Marda itu pl*yboy. Udah berapa coba mantannya. Semua mantannya itu udah
pernah dicip*k. Itu FAKTA!” Cerryl menekankan kata ‘fakta’.
“Tapi dia manis kok.” Jawab Luna asal.
“Plis, deh, Lun. Gue nggak mau debat sama lo. Takut kalah. Intinya lo
nggak boleh suka sama dia.” Cerryl menyerah dan menasehati Luna.
Ternyata Luna serius dengan ucapannya. Hanya dalam sehari ia bisa
menyukai Marda meski tahu Marda anak paling bermasalah di sekolah. Tapi
tetap saja, kejadian soal Bima membuatnya takut hal serupa akan terjadi.
By the way, kita lupakan sejenak soal Marda. Hari ini tahun ajaran baru.
Sebagai pengurus OSIS, Luna tentu ikut mensukseskan MOS. Salah satu
usahanya adalah mengisi games di tengah-tengah materi.
“Bisa-bisa lo jadi idola anak kelas sepuluh.” Cerryl mengomentari
Luna setelah ia mengisi games. “Masa’ sih? Eh, by the way kamu tau nggak
soal Vika dan April?” Luna mengalihkan pembicaraan.
“Duo dancer yang katanya BFF (best firend forever) itu?”
“Iya, katanya mereka musuhan gara-gara rebutan cowok.” Luna mengatakannya dengan antusias.
“Masa’ sih?”
“Sampe April pindah ekskul ke PMR lho.” Ujar Luna.
“Nggak konsisten banget jadi sahabat. Segampang itu ngerusak persahabatan demi cowok.” Kata Cerryl.
“Menurutku, sahabat rusak gara-gara cowok itu sahabat rendahan. Aku sih amit-amit.”
“Gue setuju sama lo.” Cerryl mengacungkan jempolnya.
Esoknya ketika Luna mengajak Cerryl ke kantin, tanpa mereka tahu
mereka dihadang oleh Marda. Seragam dikeluarkan, sepatu merah, kesan
berandal pun melekat pada dirinya. “Hei manis.” Godanya. Cerryl merasa
risih, begitu juga dengan Luna.
“Boleh nanya nggak?”
“Nanya apa?” balas Cerryl galak.
“Udah ada yang punya belom? Kalo belom jadi punyaku mau nggak?” Marda mengeluarkan senyum pl*yboynya.
“Dasar pl*yboy! Amit-amit gue jadi pacar lo. Cuih!” cerryl menggertak sambil berusaha meraih tangan Luna.
“Lho, Luna mana?” tanpa disadarinya, Luna sudah menghilang. Ia tahu,
Luna pasti kecewa dan kali ini marah besar padanya. Buru-buru ia pergi
ke lantai dua. “Luna…” panggilnya ketika melihat Luna tertunduk di depan
kelas.
“Lun, lo nggak marah kan sama gue?” Tanya Cerryl. Luna hanya buang muka.
“Plis, Lun, gue bener-bener nggak tau apa-apa soal ini.” Kini Luna
membelakangi Cerryl. “Oke, gue tau. Lo marah banget. Gue rasa lo butuh
waktu sendiri. Tapi lo musti inget kata-kata lo kemaren. Sahabat rusak
gara-gara cowok itu sahabat rendahan. Inget kalimat itu, Lun? Lo mau
jadi sahabat rendahan?”
Panjang lebar Cerryl berkata, tapi Luna tak merespon sama sekali. “Oke,
terserah lo mau diem sampe kapan. Tapi gue akan selalu jadi sahabat lo.
Gue bakal tunggu lo mau maafin gue.” Cerryl akhirnya pergi meninggalkan
Luna yang terus saja menahan air matanya.
Hari-hari berikutnya terasa hampa bagi mereka. Luna masih marah soal
Marda. Namun ia juga sedih tidak bicara dengan sahabatnya itu.
Luna, gadis yang sopan, pandai, taat tata tertib, rapi dan ramah.
Sedangkan Cerryl, gadis yang kurang memperhatikan penampilan, bicaranya
agak kasar, cuek namun manis wajahnya. Sifat yang bertolak belakang
inilah yang membuat mereka bersahabat.
Soal popularitas, Cerryl terkenal dan disukai banyak cowok lantaran
wajahnya yang cantik, manis dan natural. Sedangkan Luna terkenal di
kalangan adik kelas karena jabatannya sebagai bendahara di OSIS.
Memiliki sahabat sepandai dan sebaik Luna buat Cerryl bahagia, begitu
pula Luna. Ia bahagia punya sahabat sebijak Cerryl.
“Luna, kamu bodoh. Punya sahabat sebaik Cerryl malah kamu sia-siakan.
Dasar Luna bodoh.” Luna menyalahkan dirinya sendiri. Ia menyesal
mendiamkan Cerryl seminggu ini. Ini salahnya, ia juga tidak mau disebut
sahabat rendahan. Maka hari itu ia bertekad untuk minta maaf kepada
Cerryl.
Senin pagi, Luna sengaja datang pagi agar bisa menghadang Cerryl.
Dilihatnya lapangan basket menanti Cerryl datang. Sesekali ia tersenyum
membalas lambaian tangan dari anak kelas sepuluh. “Itu dia!” Cerryl
berjalan dengan terburu-buru. Luna bersiap di dekat tangga untuk
menyambut sahabatnya.
Tap… tap… Tap…
Terdengar suara langkah kaki. ”Itu pasti dia.” Gumam Luna. “Cerryl! Aku
minta maaf!” teriak Luna mengagetkan sosok yang muncul. “Lho, kok bukan
Cerryl?” Tanya Luna heran ketika menatap anak laki-laki kelas sepuluh
yang masih terkejut.
“Kamu ngapain kesini? Kelasmu kan di bawah.”
“Aku kesini mau ketemu kakak.” Tuturnya.
“Aku?”
“Iya, namaku Arya. Aku kesini mau bilang kalau…” arya menggantung kalimatnya.
“Kalau apa?”
“Aku suka sama kakak! Aku fansmu!” pekik Arya. Sepertinya ia grogi
sehingga mengatakannya dengan cepat. Dengan wajah yang masih
terheran-heran, Luna melihat sosok Cerryl muncul dari belakang tubuh
Arya.
“Cerryl… Maafin aku..” buru-buru Luna memeluk Cerryl. “Gue juga minta
maaf.” Balas Cerryl. “Tapi dengan satu syarat.” Tambah Cerryl setelah
melepas pelukannya.
“Syarat apa?”
“Lo harus move on dari Marda ke dia.” Cerryl menunjuk Arya yang nyengir kuda.
“Kenapa harus dia?” Tanya Luna.
“Karena, dia tulus suka sama lo. Dia udah lama suka sama lo sejak MOS.
Terus dia cerita ke gue dan minta tolong ke gue buat ngomong sama lo.
Sebenernya bukan Cuma dia aja yang suka sama lo. Banyak anak kelas
sepuluh yang suka sama lo. Elo sih tebar pesona.” Olok Cerryl.
“Jadi, intinya. Kak Luna mau jadi pacarku?” Tanya Arya.
“Jangan pake kak deh, nggak keren.”
“Iya, deh kak eh Luna. Terima nggak?” Tanya Arya lagi.
“Terima nggak ya? Emm… terima aja deh. Kamu unyu sih!” Luna mencubit
pipi Arya. Mereka tertawa bersama. Sekali lagi, Luna berhasil move on.
Selasa, 07 Januari 2014
REVIEW JURNAL
Topik : Perilaku Konsumen
Batasan Masalah : Faktor-faktor apa sajakah yang
berpengaruh terhadap perilaku konsumen dalam mengkonsumsi/ membeli buah, serta
factor apa sajakah yang dominan berpengaruh?
Judul Judul
: Kajian faktor faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli dan
mengkonsumsi buah lokal.
Pengarang : Sudiyarto &
Nuhfil Hanani
Latar Berlakang
Pemahaman
mengenai keinginan konsumen akan memungkinkan pemasar dapat mempengaruhi
keputusan konsumen, sehingga secara otomatis akan membeli apa yang ditawarkan
oleh pemasar tersebut. Persaingan antar merek dan produk yang semakin ketat
menjadikan konsumen memiliki posisi yang sangat berpengaruh dalam posisi
tawar-menawar (Sumarwan, 2003). Pendekatan kecukupan pangan yang berorientasi
pada produksi pangan hendaknya mulai digeser pada ketahanan pangan yang
berorientasi pada ketersediaan dan daya beli masyarakat. Kebutuhan dan selera
konsumen akan terpenuhi jika ketersediaan
produk dan daya
beli masyarakat masih mampu mengatasinya.
Usaha
pemenuhan kebutuhan dan selera konsumen buah-buahan dapat dilihat dari semakin
membanjirnya buah impor baik dari ragam maupun volumenya. Sumarwan (1999),
mengemukakan bahwa membanjirnya buah impor pada saat sebelum krisis moneter
telah memojokkan buah-buahan lokal., persaingan yang datang dari luar serta
kebijakan pemarintah yang kurang kondusif menyebabkan banyak petani yang
semakin terpuruk.
Tetapi
krisis moneter menyebabkan buah impor semakin mahal dan semakin berkurangnya
stok di pasar. Memahami perilaku konsumen buah-buahan merupakan informasi yang
sangat penting bagi pasar dari sektor agribisnis. Informasi ini diperlukan
sebagai bahan masukan untuk merencanakan produksi, mengembangkan produk dan
memasarkan buah-buahan dengan baik.
Masalah
Faktor-faktor
apa sajakah yang berpengaruh terhadap perilaku konsumen dalam mengkonsumsi/
membeli buah, serta factor apa sajakah yang dominan berpengaruh ?.
Tujuan
Tujuan
penelitian adalah sebagai berikut :
Menganalisis pengaruh faktor-faktor
- budaya
- lingkungan sosial;
- Individu
- Psikologis
- Strategi pemasaran terhadap perilaku konsumen dalam membeli/ mengkonsumsi buah lokal dan buah impor serta melihat faktor-faktor mana yang dominan.
Metodologi
Penelitian
Penelitian
ini termasuk studi perilaku konsumen buah-buahan di kota Surabaya sekaligus
menganalisis daya saing buah (lokal terhadap impor) atas dasar nilai sikap
kepercayaan konsumen terhadap berbagai macam buah misalnya (apel; jeruk dan
anggur). Sehingga lokasi penelitian ditentukan secara sengaja, sebaran lokasi
penelitian adalah lokasi tujuan pemasaran buah dengan sasaran konsumen akhir,
yaitu Kota Surabaya.
Jumlah
responden sebanyak 140 responden, ditentukan secara accidental yaitu
mewawancarai konsumen buah dengan kriteria :
1). Penggemar
(senang) makan buah-buahan;
2). Pembeli
rutin buah minimal satu bulan sekali;
3). Mewakili
keluarga
4). Keluarga
memiliki penghasilan.
Metode
pengumpulan data yang digunakan adalah metode survei dengan
menggunakan
instrumen penelitian:
Analisis Data
Tujuan
penelitian ini dianalisis dengan menggunakan Structural Equation
Model (SEM) yang juga
dinamakan Model Persamaan Struktural (MPS) dengan
menggunakan
piranti lunak (soft ware) AMOS.
Hasil
Penelitian
Hipotesis yang
diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa variable-variabel
1). Pengaruh Budaya Terhadap Sikap Konsumen
2). Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Sikap
Konsumen
3). Pengaruh
Karakteristik Individu Terhadap Sikap Konsumen
4). Pengaruh
Psikologis Terhadap Sikap Konsumen
5). Pengaruh Strategi Pemasaran Terhadap Sikap
Konsumen.
Kesimpulan
Beberapa
kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah :
Faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap sikap kepercayaan konsumen dalam membeli buah, menunjukkan bahwa :
1. Perubahan ‘budaya’ maupun
peningkatan ‘psikologis’ konsumen, dapat meningkatkan secara nyata sikap-kepercayaannya
dalam membeli /mengkonsumsi buah lokal.
2. Konsumen tidak perlu
mempertimbangkan ‘Lingkungan sosial’-nya dalam membeli buah lokal dan
peningkatan karakteristik ‘individu’ konsumen tidak menjadikan sikap
kepercayaannya meningkat dalam membeli/ mengkonsumsi buah lokal.
3. Konsumen tidak
merasakan adanya ‘Strategi pemasaran’ yang ditempuh perusahaan/ pemasar yang
dapat mendukung meningkatkan ‘sikap-kepercayaan’-nya dalam membeli
/mengkonsumsi buah local.
Saran :
1. Buah lokal perlu diperlakukan
sebagai produk yang lebih dihargai di
negeri sendiri.
2. Daya saing
buah lokal agar ditingkatkan melalui : strategi pemasaran
dan peningkatan atribut.
Referensi :
http://donipamungkas.blogspot.com/2012/12/review-jurnal.html
http://ebookbrowse.com/review-jurnal-prilaku-konsumen-tugas-metode-riset-doc-d78507800
Langganan:
Komentar (Atom)
Jakarta